Home


Index of all articles, click here


http://www.mediaindonesia.com/read/2010/10/10/173153/16/1/Kesaksian-Pengacara-Gayus-Berbelit-Belit

Kesaksian Pengacara Gayus Berbelit-Belit

By Ayomi Amindoni
06 Oktober 2010


JAKARTA--MI: Jaksa dan majelis hakim mencecar Feber Silalahi, pengacara Gayus Tambunan, dengan berbagai pertanyaan. Hal itu terjadi dalam persidangan dengan agenda pemeriksaan saksi terdakwa Andi Kosasih di PN Jaksel, Selasa (5/10). Feber sebagai saksi dinilai telah beberapa kali memberikan keterangan palsu selama persidangan. Bahkan, Andi Kosasih saat memberikan tanggapannya menyebut Feber pembohong.

Feber Silalahi adalah pengacara Gayus bersama enam pengacara lain. Pada Juni 2009 ia diberi kuasa oleh Gayus untuk menjadi pengacara dalam perkara yang melibatkan Gayus. Namun anehnya, Feber tidak mengetahui seluk-beluk perkara Gayus. JPU mempertanyakan Feber yang tidak tahu apa-apa dan kemudian ditegaskan oleh hakim.

"Saksi kan terima kuasa dari Gayus, apa saksi mempelajari kasusnya secara detil? Apa saudara hanya melihat pada secarik berkas tanpa mencari bukti-bukti lain?" Ceritalah apa adanya supaya jangan ngambang," pinta ketua majelis hakim.

Feber lalu menjelaskan ia menjadi kuasa hukum Gayus setelah Gayus menerima surat dari Bareskrim atas tuduhan melakukan tindak pidana pencucian uang dan laporan bahwa rekening Gayus di BCA dan Panin diblokir. Dalam pertemuan pertama dengan Andi Kosasih di Hotel Sultan, Feber, Lambertus, dan Gayus telah berkumpul. Baru kemudian Andi Kosasih datang bersama Haposan dan diperkenalkan sebagai pengusaha dari Batam. "Di dalam perkenalan tidak ada pembicaraan lagi. Gayus dan Andi pulang. Kemudian saya juga pulang," ujar Feber.

Mengenai penandatanganan surat perjanjian di Hotel Ambara, Feber mengaku tidak tahu apa yang ditandatangani dan siapa yang menandatangani. Menurut Feber, proses perkenalan Gayus dan Haposan adalah ketika Feber meminta Haposan untuk menjadi kuasa hukum dalam kasus Gayus. Alasannya, karena Haposan lebih senior dia lebih berpengalaman menangani kasus pidana. Tetapi ia tidak mengakui siapa yang pertama kali berinisiatif untuk bertemu Haposan.

JPU menilai saksi banyak memberi keterangan palsu. JPU juga meminta kepada hakim supaya saksi juga ditetapkan sebagai terdakwa. Feber kemudian mengakui bahwa sebelum Gayus dan Haposan berkenalan, Haposan memberitahunya jika ada kasus yang berhubungan dengan Bareskrim Haposan bisa bantu. Haposan minta kepada Feber untuk membawa Gayus ke kantor Haposan di Patra Jasa, Kuningan. "Setelah memperkenalkan, saya menjelaskan perkara Gayus dan blokir rekning Gayus. Setelah itu tidak tahu," kata Feber.

Ia mengakui bahwa pencantuman nama Haposan dalam surat kuasa Gayus dilakukan belakangan dengan cara disisipkan. "Setelah itu ada sisipan halaman baru dengan pencantuman haposan dlm surat kuasa. Gayus tidak tahu," ujarnya lagi.

Majelis hakim kemudian mempertanyakan pertemuan di Hotel Ambarra, ada yang tanda tangan, siapa yang tanda tangan, Feber tidak tahu. Feber hanya melihat sekilas, tidak tau persis. Majelis hakim dengan sedikit kesal bertanya, "Lalu ngapain kamu datang ke hotel kalo enggak ngapa-ngapain? Klien Anda yang menandatangani, masak Anda enggak tahu apa yang ditandatangani?"

Feber tetap mengaku tidak lihat apa yg ditndatangani dan adanya kuitansi. Hakim menanggapi keterangan Feber sebagai hal yang aneh dan tidak masuk akal. Feber berdalih ia banyak tidak tahu karena semua telah diambil alih oleh Haposan. Hakim menganggap Feber sebagai pengacara yang pasif. Tanpa berbuat apa-apa ia mendapat fee dari Gayus Rp50 juta.


-----------


http://www.jpnn.com/?mib=berita.detail&id=19335

Deplu: Kasus Penyiksaan TKW dalam Proses Hukum


JAKARTA - Kendati kondisi tenaga kerja wanita (TKW) asal Nusa Tenggara Timur (NTT), Modesta Rangga Kaka (25), korban penganiayaan majikannya di Malaysia, hingga kini mulai membaik, namun pihak Direktorat Perlindungan WNI dan Badan Hukum Indonesia (BHI) Departemen Luar Negeri (Deplu) RI, akan tetap membawa kasus tersebut ke ranah hukum.

Seperti diketahui, Modesta Rangga Kaka dianiaya sejak awal bekerja di rumah majikannya di Ampang Baru, Malaysia, tahun 2007 lalu. Dia antara lain dianiaya dengan rotan, tongkat kayu, bahkan sering terkena tamparan di wajah dan badannya.

Bukti-bukti kekerasan yang dilakukan si majikan tergambar jelas di badan wanita kelahiran Ngamba Deta, Kabupaten Sumba Barat, NTT itu. Telinga kanan perempuan berambut pendek itu mengalami kerusakan berat. Daun telinganya bengkok dan bengkak merah kehitaman. Bekas-bekas luka dan memar terlihat di sekujur tubuhnya.

Juru bicara (Jubir) Deplu Teuku Faizasyah mengatakan, pihaknya memastikan kalau masalah ini akan diproses secara hukum. Lebih-lebih karena pihak kepolisian di sana sudah meminta keterangan dari kedua belah pihak. "Jadi, Deplu akan terus mengawal proses hukum yang sedang berjalan. Diharapkan proses hukum kasus penganiayaan ini dapat diselesaikan sesuai harapan," katanya.

''Kondisi kesehatan korban memang telah berangsur-angsur pulih. Lebih-lebih dia telah menjalani perawatan dan pengobatan. Jadi, secara fisik maupun psikologis, sudah agak membaik,'' kata Teuku Faizasyah pula, kepada JPNN di kantornya, Rabu (1/7).


-----------


http://balipost.com/mediadetail.php?module=detailberita&kid=10&id=21763

Terdakwa Mengaku sebagai Pengacara


Denpasar (Bali Post) - Aksi penipuan yang diduga dilakukan terdakwa Esti Juliani, akhirnya makin terbongkar pada sidang di PN Denpasar, Kamis (8/10) kemarin. Saksi korban Don Warthington menyatakan saat perkenalan pertama terdakwa mengaku sebagai seorang pengacara dan notaris lulusan Inggris. ''Penampilannya sangat meyakinkan, sehingga saya jadi tertarik karenanya,'' ujar Don Warthington, sebagaimana diterjemahkan penerjemah yang ada di sampingnya.

Don Warthington mengatakan pertama kali mengenal terdakwa Esti Juliani melalui paradise property, yang menyebutkan terdakwa adalah seorang pengacara dan notaris. Tak lama kemudian, saksi korban bersama istrinya mendatangi PT Kantor Kita di Jalan By-pass Ngurah Rai No. 379 Sanur.

Karena percaya dengan tawaran terdakwa, selanjutnya saksi mentransfer uang melalui rekening PT Kantor Kita di Bank Permata Sanur dengan nilai total USD 4,1 juta.

Dari pertemuan dengan terdakwa, saksi korban kemudian mentranfers sejumlah uang. Pada kesempatan pertama ditransfer uang senilai USD 1,55 juta sudah digunakan untuk menyewa lahan seluas 5 Ha sesuai tawaran terdakwa. Sedangkan sisanya, USD 2,55 juta untuk membeli lahan seluas 5 Ha. Ternyata, sampai sekarang sertifikat seperti dijanjikan terdakwa tidak diberikan.

Hakim sempat bertanya kepada korban kenapa begitu saja percaya dengan terdakwa. Korban percaya begitu saja lantaran kata-kata meyakinkan dari terdakwa. Di antaranya sudah berpengalaman berinvestasi di banyak negara, dan biasanya mempercayakan urusan itu kepada pengacara, seperti di USA dan beberapa negara Asia.

Seperti diberitakan, perbuatan terdakwa dilakukan antara Agustus 2008 sampai Maret 2009 bertempat di Kantor Kita, Jalan By-pass Ngurah Rai No. 379 Sanur. Terdakwa mengenal saksi korban Don Warthington setelah diperkenalkan oleh saksi Mark Vernon Tuck.

Saat itu, terdakwa asal Negara, Jembrana ini mengaku sebagai seorang pengacara atau notaris. Terdakwa kemudian menawarkan sebidang tanah seluas 10 Ha di Desa Manggis, Karangasem. Seluas 5 Ha disewakan, sedang sisanya dijual seharga Rp 25 miliar atau sekitar USD 2,55 juta. Karena tertarik, saksi korban membayar secara cicilan melalui rekening PT Kantor Kita di Bank Permata, Sanur.

Setelah semua uang itu disetor, sertifikat tanah yang dimaksudkan tidak pernah diperoleh saksi korban. Belakangan, saksi korban mendapat kabar langsung dari pemilik tanah bahwa tidak pernah menjual tanah tersebut. Jaksa menjerat terdakwa dengan pasal 387 tentang Penipuan.


-----------


http://www.hidayatullah.com/berita/internasional/14448-seperlima-perceraian-di-amerika-serikat-libatkan-facebook

Seperlima Perceraian di Amerika Serikat Libatkan Facebook


Pesan genit dan foto-foto yang ditemukan di Facebook semakin sering digunakan sebagai bukti perilaku tidak bertanggung jawab

Hidaatullah.com-- Dulu, biang keladi perceraian adalah bekas lipstik di kerah. Lalu, pada masa lebih modern, SMS mesra dari orang lain jadi pemicu perpisahan.

Kini, satu dari lima perceraian di Amerika Serikat melibatkan situs jejaring sosial Facebook, ungkap survei American Academy of Matrimonial Lawyers.

80 persen pengacara perceraian juga melaporkan lonjakan jumlah kasus yang menggunakan media sosial seperti Facebook untuk bukti perselingkuhan.

Pesan genit dan foto-foto yang ditemukan di Facebook semakin sering digunakan sebagai bukti perilaku tidak bertanggung jawab atau perbedaan yang tak bisa disamakan lagi.

Facebook sejauh ini paling banyak digunakan sebagai "media selingkuh" dengan 66% dari pengacara perceraian menyebut situs jejaring itu sebagai sumber utama pembuktian dalam kasus perceraian.MySpace berada di posisi ke-2 dengan 15%, selanjutnya Twitter dengan 5% dan gabungan jejaring sosial lainnya 14%.

Di Inggris, tahun lalu suatu firma hukum menyebut bahwa 20% persen gugatan perceraian melibatkan teman kencan di Facebook.

"Alasan yang paling umum tampaknya adalah suami atau istri melakukan chatting seksual yang tidak pantas dengan orang lain," kata Mark Keenan, managing director Divorce-Online.

Friends Reunited juga menghadapi tudingan serupa ketika mereka diluncurkan untuk membantu orang berhubungan kembali dengan teman sekelas dari masa lalu.

Salah satu contoh "penyalahgunaan" Facebook adalah ketika bintang 'Desperate Housewives' Eva Longoria menuduh suaminya, pemain basket Tony Parker terus berhubungan dengan seorang perempuan lewat Facebook.

Penasehat perkawinan Real Terry mengatakan ia yakin beberapa orang memang menggunakan Facebook untuk menciptakan kehidupan fantasi dan melarikan diri dari kebosanan.

Dia mengatakan tidak ada yang lebih menggoda daripada 'fantasi' tentang sesuatu yang lebih ideal dibandingkan kehidupan nyata. Tapi, dia menyarankan agar Facebook tidak bisa disalahkan.

"Sebelum jejaring sosial, ada email, sebelum itu telepon. Masalahnya bukan Facebook, masalahnya adalah hilangnya cinta dalam pernikahan Anda, "katanya.[ant/hidayatullah.com]


-----------


http://www.hidayatullah.com/berita/internasional/13797-wanita-saudi-boleh-menjadi-pengacara

Wanita Saudi Boleh Menjadi Pengacara


Biasanya, penerapan sebuah produk hukum yang sudah berlaku bisa memakan waktu lama

Hidayatullah.com--Kerajaan Arab Saudi sedang merancang Undang-Undang yang membolehkan wanita menjadi pengacara.

Menteri Kehakiman Mohammed al-Issa mengatakan kepada media Saudi bahwa pengacara wanita akan dibolehkan tampil di pengadilan dalam perkara-perkara perdata yang menyangkut keluarga, seperti perkawinan, perceraian dan hak perwalian atas anak.

Dewasa ini wanita Saudi boleh bekerja di pemerintahan dan peradilan, tetapi khusus di bagian wanita di mana mereka tidak melakukan kontak dengan kaum pria.

Namun seorang warga Indonesia yang lama bermukim di Arab Saudi, Abdullah Chaidir, mengatakan perubahan ini akan memakan waktu lama.

“Pandangan-pandangan fiqh banyak menjadi rujukan di sini, di samping dari segi budaya tampilnya seorang wanita di publik menjadi persoalan tersendiri,” kata Chaidir kepada BBC.

Raja Abdullah mencanangkan banyak perubahan di Arab Saudi. Chaidir mengatakan arus utama ulama di Arab Saudi menghendaki agar kerajaan berhati-hati dalam melakukan perubahan sosial.

Selain itu, menurut Chaidir, penerapan sebuah produk hukum yang sudah berlaku bisa memakan waktu lama.

Para pengamat memandang upaya pemerintah ini sebagai bagian dari reformasi yang dilakukan oleh Raja Abdullah. Tahun lalu Raja Abdullah meresmikan Universitas Raja Abdullah untuk Sains dan Teknologi di Thulwa, dimana mahasiswa dan mahasiswi bisa kuliah bersama-sama, sesuatu yang baru dan berbeda dengan kelaziman di negara itu. [bbc/pko/hidayatullah.com]



Index of all articles, click here



http://www.asiatour.com/pengacara.htm
Jan Garanoz
Juhu Tara Road, Juhu,
Mumbai - 400049 India
Who is Jan Garanoz?
Last updated: December 9, 2010