Bagian Kedelapan
Pemeriksaan di Sidang Pengadilan
Paragraf 1
Umum
Pasal
27
(1)
Perkara pelanggaran hak asasi manusia yang berat diperiksa dan diputus
oleh Pengadilan HAM sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4.
(2)
Pemeriksaan perkara pelanggaran hak asasi manusia yang berat sebagaimana
dimaksud dalam ayat (1) dilakukan oleh majelis hakim Pengadilan
HAM yang berjumlah 5 (lima) orang, terdiri atas 2 (dua) orang hakim
pada Pengadilan HAM yang bersangkutan dan 3 (tiga) orang hakim ad
hoc.
(3)
Majelis hakim sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) diketuai oleh
hakim dari Pengadilan HAM yang bersangkutan.
Pasal
28
(1)
Hakim ad hoc diangkat dan diberhentikan oleh Presiden selaku Kepala
Negara atas usul Ketua Mahkamah Agung.
(2)
Jumlah hakim ad hox sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) sekurang-kurangnya
12 (dua belas) orang.
(3)
Hakim ad hoc diangkat untuk selama 5 (lima) tahun dan dapat diangkat
kembali untuk 1 (satu) kali masa jabatan.
Paragraf
2
Syarat
Pengangkatan Hakim Ad Hoc
Pasal 29
Untuk
dapat diangkat menjadi Hakim ad hoc harus memenuhi syarat:
1.
warga negara Republik Indonesia;
2.
bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa;
3.
berumur sekurang-kurangnya 45 (empat puluh lima) tahun dan paling
tinggi 65 (enam puluh lima) tahun;
4.
berpendidikan sarjana hukum atau sarjana lain yang mempunyai keahlian
di bidang hukum;
5.
sehat jasmani dan rohani;
6.
beribawa, jujur, adil dan berkelakuan tidak tercela;
7.
setia kepada Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945; dan
8.
memiliki pengetahuan dan kepedulian di bidang hak asasi manusia.
Pasal
30
Hakim
ad hoc yang diangkat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 28 ayat (1)
sebelum melaksanakan tugasnya wajib mengucapkan sumpah sesuai dengan
agamanaya masing-masing yang lafalnya berbunyi sebagai berikut:
"Saya
bersumpah/berjanji dengan sungguh-sungguh bahwa saya untuk melaksanakan
tugas ini, langsung atau tidak langsung, dengan menggunakan nama
atau cara apapun juga, tidak akan memberikan atau menjanjikan sesuatu
apapun kepada siapapun juga".
"Saya
bersumpah/berjanji bahwa saya, untuk melakukan atau tidak melakukan
sesuatu dalam tugas ini, tidak sekali-kali akan menerima langsung
atau tidak langsung dari siapapun juga suatu janji atau pemberian".
"Saya
bersumpah/berjanji bahwa saya akan setia kepada dan akan mempertahankan
serta mengamalkan Pancasila sebagai dasar negara, Undang-Undang
Dasar 1945, serta peraturan perundang-undangan yang berlaku bagi
negara Republik Indonesia".
"Saya
bersumpah/berjanji bahwa saya senantiasa akan menjalankan tugas
ini dengan jujur, seksama, dan obyektif dengan tidak membeda-bedakan
orang, dan akan menjunjung tinggi etika profesi dalam melaksanakan
kewajiban saya ini dengan sebaik-baiknya dan seadil-adilnya seperti
layaknya bagi seorang petugas yang berbudi baik dan jujur dalam
menegakkan hukum dan keadilan".
Paragraf 3
Acara Pemeriksaan
Pasal
31
Perkara
pelanggaran hak asasi manusia yang berat, diperiksa dan diputus
oleh Pengadilan HAM dalam waktu paling lama 180 (seratus delapan
puluh) hari terhitung sejak perkara dilimpahkan ke Pengadilan HAM.
Pasal
32
(1)
Dalam hal perkara pelanggaran hak asasi manusia yang berat dimohonkan
banding ke Pengadilan Tinggi, maka perkara tersebut diperiksa dan
diputus dalam waktu paling lama 90 (sembilan puluh) hari terhitung
sejak perkara dilimpahkan ke Pengadilan Tinggi.
(2)
Pemeriksaan perkara sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dilakukan
oleh majelis hakim berjumlah 5 (lima) orang yang terdiri atas 2
(dua) orang hakim Pengadilan Tinggi yang bersangkutan dan 3 (tiga)
orang hakim ad hoc.
(3)
Jumlah hakim ad hoc di Pengadilan Tinggi sebagaimana dimaksud dalam
ayat (2) sekurang-kurangnya 12 (dua belas) orang.
(4)
Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 28 ayat (1) dan ayat
(3), Pasal 29 dan Pasal 30 juga berlaku bagi pengangkatan hakim
ad hoc pada Pengadilan Tinggi.
Pasal
33
(1)
Dalam hal perkara pelanggaran hak asasi manusia yang berat dimohonkan
kasasi ke Mahkamah Agung, perkara tersebut diperiksa dan diputus
dalam waktu paling lama 90 (sembilan puluh) hari terhitung sejak
perkara dilimpahkan ke Mahkamah Agung.
(2)
Pemeriksaan perkara sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dilakukan
oleh majelis hakim yang berjumlah 5 (lima) orang terdiri atas 2
(dua) orang Hakim Agung dan 3 (tiga) orang hakim ad hoc.
(3)
Jumlah hakim ad hoc di Mahkamah Agung sebagaimana dimaksud dalam
ayat (2) sekurang-kurangnya 3 (tiga) orang.
(4)
Hakim ad hoc di Mahkamah Agung diangkat oleh Presiden selaku Kepala
Negara atas usulan Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia.
(5)
Hakim ad hoc sebagaimana dimaksud dalam ayat (4) diangkat untuk
satu kali masa jabatan selama 5 (lima) tahun.
(6)
Untuk dapat diangkat menjadi hakim ad hoc pada Mahkamah Agung harus
memenuhi syarat:
a.
warga negara Republik Indonesia;
b.
bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa;
c.
berumur sekurang-kurangnya 50 (lima puluh) tahun;
d.
berpendidikan sarjana hukum atau sarjana lain yang mempunyai keahlian
di bidang hukum;
e.
sehat jasmani dan rohani;
f.
berwibawa, jujur, adil, dan berkelakuan tidak tercela;
g.
setia kepada Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945; dan
h.
memiliki pengetahuan dan kepedulian di bidang hak asasi manusia.

Back to Undang-undang Pengadilan Hak Asasi Menusia Main Page


UNDANG-UNDANG PENGADILAN HAK ASASI MANUSIA
|