BAGIAN
1
Sifat
Pemberian Kuasa
1792.
Pemberian kuasa ialah suatu persetujuan yang berisikan pemberian
kekuasaan kepada orang lain yang menerimanya untuk melaksanakan
sesuatu atas nama orang yang memberikan kuasa.
1793.
Kuasa dapat diberikan dan diterima dengan suatu akta umum, dengan
suatu surat di bawah tangan bahkan dengan sepucuk surat ataupun
dengan lisan.
Penerimaan
suatu kuasa dapat pula terjadi secara diam-diam dan disimpulkan
dari pelaksanaan kuasa itu oleh yang diberi kuasa.
1794.
Pemberian kuasa terjadi dengan cuma-cuma, kecuali jika diperjanjikan
sebaliknya.
Jika
dalam hal yang terakhir upahnya tidak ditentukan dengan tegas, maka
penerima kuasa tidak boleh meminta upah yang lebih daripada yang
ditentukan dalam Pasal 411 untuk wali.
1795.
Pemberian kuasa dapat dilakukan secara khusus, yaitu hanya mengenai
satu kepentingan tertentu atau lebih, atau secara umum, yaitu meliputi
segala kepentingan pemberi kuasa.
1796.
Pemberian kuasa yang dirumuskan secara umum hanya meliputi tindakan-
tindakan yang menyangkut pengurusan.
Untuk
memindahtangankan barang atau meletakkan hipotek di atasnya, untuk
membuat suatu perdamaian, ataupun melakukan tindakan lain yang hanya
dapat dilakukan oleh seorang pemilik, diperlukan suatu pemberian
kuasa dengan kata-kata yang tegas.
1797.
Penerima kuasa tidak boleh melakukan apa pun yang melampaui kuasanya,
kekuasaan yang diberikan untuk menyelesaikan suatu perkara secara
damai, tidak mengandung hak untuk menggantungkan penyelesaian perkara
pada keputusan wasit.
1798.
Orang-orang perempuan dan anak yang belum dewasa dapat ditunjuk
kuasa tetapi pemberi kuasa tidaklah berwenang untuk mengajukan suatu
tuntutan hukum terhadap anak yang belum dewasa, selain menurut ketentuan-ketentuan
umum mengenai perikatan-perikatan yang dibuat oleh anak yang belum
dewasa, dan terhadap orang-orang perempuan bersuami yang menerima
kuasa tanpa bantuan suami pun ia tak berwenang untuk mengadakan
tuntutan hukum selain menurut ketentuan-ketentuan Bab 5 dan 7 Buku
Kesatu dari Kitab Undang-undang Hukum Perdata ini.
1799.
Pemberi kuasa dapat menggugat secara langsung orang yang dengannya
penerima kuasa telah melakukan perbuatan hukum dalam kedudukannya
dan pula dapat mengajukan tuntutan kepadanya untuk memenuhi persetujuan
yang telah dibuat.
BAGIAN
2
Kewajiban
Penerima Kuasa
1800.
Penerima kuasa, selama kuasanya belum dicabut, wajib melaksanakan
kuasanya dan bertanggung jawab atas segala biaya, kerugian dan bunga
yang timbul karena tidak dilaksanakannya kuasa itu.
Begitu
pula ia wajib menyelesaikan urusan yang telah mulai dikerjakannya
pada waktu pemberi kuasa meninggal dan dapat menimbulkan kerugian
jika tidak segera diselesaikannya.
1801.
Penerima kuasa tidak hanya bertanggung jawab atas perbuatan-perbuatan
yang dilakukan dengan sengaja melainkan juga atas kelalaian-kelalaian
yang dilakukan dalam menjalankan kuasanya.
Akan
tetapi tanggung jawab atas kelalaian-kelalaian orang yang dengan
cuma-cuma menerima kuasa, tidaklah seberat tanggung jawab yang diminta
dari orang yang menerima kuasa dengan mendapatkan upah.
1802.
Penerima kuasa wajib memberi laporan kepada kuasa tentang apa
yang telah dilakukan serta memberikan perhitungan tentang segala
sesuatu yang diterimanya berdasarkan kuasanya, sekalipun apa yang
diterima itu tidak harus dibayar kepada pemberi kuasa.
1803.
Penerima kuasa bertanggungjawab atas orang lain yang ditunjuknya
sebagai penggantinya dalam melaksanakan kuasanya:
1.
bila tidak diberikan kuasa untuk menunjuk orang lain sebagai penggantinya
2.
bila kuasa itu diberikan tanpa menyebutkan orang tertentu sedangkan
orang yang dipilihnya ternyata orang yang tidak cakap atan tidak
mampu.
Pemberi
kuasa senantiasa dianggap telah memberi kuasa kepada penerima kuasanya
untuk menunjuk seorang lain sebagai penggantinya untuk mengurus
barang-barang yang berada di luar wilayah Indonesia atau di luar
pulau tempat tinggal pemberi kuasa.
Pemberi
kuasa dalam segala hal, dapat secara langsung mengajukan tuntutan
kepada orang yang telah ditunjuk oleh penerima kuasa sebagai penggantinya.
1804.
Bila dalam satu akta diangkat beberapa penerima kuasa untuk
suatu urusan, maka terhadap mereka tidak terjadi suatu perikatan
tanggung-menanggung kecuali jika hal itu ditentukan dengan tegas
dalam akta.
1805.
Penerima kuasa harus membayar bunga atau uang pokok yang dipakainya
untuk keperluannya sendiri terhitung dari saat ia mulai memakai
uang itu, begitu pula bunga atas uang yang harus diserahkannya pada
penutupan perhitungan terhitung dari saat ia dinyatakan lalai melakukan
kuasa.
1806.
Penerima kuasa yang telah memberitahukan secara sah hal kuasanya
kepada orang yang dengannya ia mengadakan suatu persetujuan dalam
kedudukan sebagai penerima kuasa, tidak bertanggung jawab atas apa
yang terjadi diluar batas kuasa itu, kecuali jika ia secara pribadi
mengikatkan diri untuk itu.
BAGIAN
3
Kewajiban-kewajiban
Pemberi Kuasa
1807.
Pemberi kuasa wajib memenuhi perikatan-perikatan yang dibuat oleh
penerima kuasa menurut kekuasaan yang telah ia berikan kepadanya.
Ia
tidak terikat pada apa yang telah dilakukan di luar kekuasaan itu
kecuali jika ia telah menyetujui hal itu secara tegas atau diam-diam.
1808.
Pemberi kuasa wajib mengembalikan persekot dan biaya yang telah
dikeluarkan oleh penerima kuasa untuk melaksanakan kuasanya, begitu
pula membayar upahnya bila tentang hal ini telah diadakan perjanjian.
Jika
penerima kuasa tidak melakukan suatu kelalaian, maka pemberi kuasa
tidak dapat menghindarkan diri dari kewajiban mengembalikan persekot
dan biaya serta membayar upah tersebut di atas, sekalipun penerima
kuasa tidak berhasil dalam urusannya itu.
1809.
Begitu pula pemberi kuasa harus memberikan ganti rugi kepada
penerima kuasa atas kerugian-kerugian yang dideritanya sewaktu menjalankan
kuasanya asal dalam hal itu penerima kuasa tidak bertindak kurang
hati-hati.
1810.
Pemberi kuasa harus membayar bunga atas persekot yang telah
dikeluarkan oleh penerima kuasa, terhitung mulai hari dikeluarkannya
persekot itu.
1811.
Jika seorang penerima kuasa diangkat oleh berbagai orang untuk menyelenggarakan
suatu urusan yang harus mereka selesaikan secara bersama, maka masing-masing
dari mereka bertanggung jawab untuk seluruhnya terhadap penerima
kuasa mengenai segala akibat dari pemberian kuasa itu.
1812.
Penerima kuasa berhak untuk menahan kepunyaan pemberi kuasa
yang berada di tangannya hingga kepadanya dibayar lunas segala sesuatu
yang dapat dituntutnya akibat pemberian kuasa.
BAGIAN
4
Bermacam-macam
Cara Berakhirnya Pemberian Kuasa
1813.
Pemberian kuasa berakhir:
dengan
penarikan kembali kuasa penerima kuasa;
dengan
pemberitahuan penghentian kuasanya oleh penerima kuasa;
dengan
meninggalnya, pengampuan atau pailitnya, baik pemberi kuasa maupun
penerima kuasa;
dengan
kawinnya perempuan yang memberikan atau menerima kuasa.
1814.
Pemberi kuasa dapat menarik kembali kuasanya bila hal itu dikehendakinya
dan dapat memaksa pemegang kuasa untuk mengembalikan kuasa itu bila
ada alasan untuk itu.
1815.
Penarikan kuasa yang hanya diberitahukan kepada penerima kuasa tidak
dapat diajukan kepada pihak ketiga yang telah mengadakan persetujuan
dengan pihak penerima kuasa karena tidak mengetahui penarikan kuasa
itu, hal ini tidak mengurangi tuntutan hukum dari pemberi kuasa
terhadap penerima kuasa.
1816.
Pengangkatan seorang penerima kuasa baru untuk menjalankan suatu
urusan yang sama, menyebabkan ditariknya kembali kuasa penerima
kuasa yang pertama, terhitung mulai hari diberitahukannya pengangkatan
itu kepada orang yang disebut belakangan.
1817.
Pemegang kuasa dapat membebaskan diri dari kuasanya dengan memberitahukan
penghentian kepada pemberi kuasa.
Akan
tetapi bila pemberitahuan penghentian ini, baik karena ia tidak
mengindahkan waktu maupun karena sesuatu hal lain akibat kesalahan
pemegang kuasa sendiri, membawa kerugian bagi pemberi kuasa, maka
pemberi kuasa ini harus diberikan ganti rugi oleh pemegang kuasa
itu kecuali bila pemegang kuasa itu tak mampu untuk meneruskan kuasanya
tanpa mendatangkan kerugian yang berarti bagi dirinya sendiri.
1818.
Jika pemegang kuasa tidak tahu tentang meninggalnya pemberi
kuasa atau tentang suatu sebab lain yang menyebabkan berakhirnya
kuasa itu, maka perbuatan yang dilakukan dalam keadaan tidak tahu
itu adalah sah.
Dalam
hal demikian, segala perikatan yang dilakukan oleh penerima kuasa
dengan pihak ketiga yang beritikad baik, harus dipenuhi terhadapnya.
1819.
Bila pemegang kuasa meninggal dunia, maka para ahli warisnya harus
memberitahukan hal itu kepada pemberi kuasa jika mereka tahu pemberian
kuasa itu, dan sementara itu mengambil tindakan-tindakan yang perlu
menurut keadaan bagi kepentingan pemberi kuasa, dengan ancaman mengganti
biaya, kerugian dan bunga, jika ada alasan untuk itu.


Back to Buku Ketiga - Perikatan Main Page


Back to Kitab Undang-undang Hukum Perdata Main Page
KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PERDATA (Civil Code)

Buku Kesatu - Orang
Buku Kedua - Benda
Buku Ketiga - Perikatan
Buku Keempat - Pembuktian Dan Lewat Waktu